Tampilkan postingan dengan label waktu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label waktu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 September 2010

Ensyclopedia kecepatan cahaya

naru's blog
Kecepatan cahaya
Dari Wikipedia bahasa
Indonesia, ensiklopedia
bebas Tabel konversi
untuk satuan kecepatan
1 c (konstanta kecepatan
cahaya)
adalah sama dengan
1 kecepatan cahaya (c)
107.925.284.880,00
sentimeter per jam (cm/h)
29.979.245.800,00
sentimeter per menit (cm/
s)
1.798.754.748,00 sentimeter
per detik (cm/m)
3.540.855.803.149,61 kaki
per jam (foot/h)
59.014.263.385,83 kaki per
menit (foot/m)
983.571.056,43 kaki per
detik (foot/s)
1.079.252.848.800,00 meter
per jam (m/h)
17.987.547.480,00 meter per
menit (m/m)
299.792.458,00 meter per
detik (m/s)
1.079.252.848,80 kilometer
per jam (km/h)
17.987.547,48 kilometer per
menit (km/m)
299.792,46 kilometer per
detik (km/s)
582.749.918,36 knot (knot)
904.460,44 mach (laut)
(mach (laut))
1.016.085,80 mach (SI)
(mach (SI))
670.616.629,38 mil per jam
(mil/h)
11.176.943,82 mil per menit
(mil/m)
186.282,39 mil per detik
(mil/s)
1.180.285.267.716,53 yard
per jam (yard/h)
19.671.421,13 yard per
menit (yard/m)
327.857.018,81 yard per
detik (yard/s)
Cahaya Matahari
diperkirakan memerlukan
waktu 8 menit untuk
mencapai Bumi.
Kecepatan cahaya dalam
beberapa unit satuan
meter per detik
299,792,458 (exact)
kilometer per detik ˜
300,000
kilometer per jam ˜
1,079,000,000
mil per detik ˜ 186,000
mil per jam ˜ 671,000,000
natural units 1 (exact and
dimensionless)
Perkiraan lama waktu
yang diperlukan dari jarak
tempuh cahaya:
Satu kaki 1.0 nanodetik
Satu meter 3.3 nanodetik
Satu kilometer 3.3
mikrodetik
Satu mil 5.4 mikrodetik
Dari Bumi ke
geostationary orbit 0.12
detik
Mengelilingi khatulistiwa
bumi 0.13 detik
Dari Bumi ke Bulan 1.3
detik
Dari Bumi ke Matahari 8.3
menit
Dari Bumi ke Alpha
Centauri 4.4 tahun
Menyebrangi Bima Sakti
100,000 tahun
Kecepatan cahaya
merupakan sebuah
konstanta yang
disimbolkan dengan huruf
c, singkatan dari celeritas
(yang dirujuk dari dari
bahasa Latin) yang berarti
"kecepatan".
Kecepatan cahaya dalam
sebuah ruang hampa
udara didefinisikan saat
ini pada 299.792.458 meter
per detik (m/s)[1]atau
1.079.252.848,8 kilometer
per jam (km/h) atau
186.282.4 mil per detik
(mil/s) atau 670.616.629,38
mil per jam (mil/h), yang
ditetapkan pada tahun
1975 dengan toleransi
kesalahan sebesar 4×10−9.
[2] Pada tahun 1983,
satuan meter didefinisikan
kembali dalam Sistem
Satuan Internasional (SI)
kemudian ditetapkan
pada 17th Conférence
Générale des Poids et
Mesures sebagai ... the
length of the path
travelled by light in
vacuum during a time
interval of 1 ⁄299.792.458 of
a second[3][4][5][6] ,
sehingga nilai konstanta c
dalam meter per detik
sekarang tetap tepat
dalam definisi meter,
sebagai jarak yang
ditempuh oleh cahaya
dalam ruang hampa pada
1 ⁄299.792.458 detik[7][8][9].
Observasi Rømer dengan
mengamati gerakan
planet Jupiter dan
menghitung pergeseran
periode orbit dari salah
satu bulan satelitnya yang
bernama Io, dan
kemudian Rømer dapat
memperkirakan jarak
tempuh cahaya dari
diameter orbit bumi
[sunting]
Kronologis
Beragam ilmuwan
sepanjang sejarah telah
mencoba untuk mengukur
kecepatan cahaya.
Pada tahun 1629, Isaac
Beeckman melakukan
observasi sinar flash yang
dipantulkan oleh cermin
dari jarak 1 mil (1,6
kilometer).
Pada tahun 1638, Galileo
Galilei berusaha untuk
mengukur kecepatan
cahaya dari waktu tunda
antara sebuah cahaya
lentera dengan persepsi
dari jarak cukup jauh.
Pada tahun 1667,
percobaan Galileo Galilei
diteliti oleh Accademia del
Cimento of Florence,
dengan rentang 1 mil,
tetapi tidak terdapat
waktu tunda yang dapat
diamati. Berdasarkan
perhitungan modern,
waktu tunda pada
percobaan itu seharusnya
adalah 11 mikrodetik. Dan
Galileo Galilei mengatakan
bahwa observasi itu tidak
menunjukkan bahwa
cahaya mempunyai
kecepatan yang tidak
terhingga, tetapi hanya
menunjukkan bahwa
cahaya mempunyai
kecepatan yang sangat
tinggi.[10][11]
Pada tahun 1676, sebuah
percobaan awal untuk
mengukur kecepatan
cahaya dilakukan oleh Ole
Christensen Rømer,
seorang ahli fisika
Denmark dan anggota
grup astronomi dari
French Royal Academy of
Sciences. Dengan
menggunakan teleskop,
Ole Christensen Rømer
mengamati gerakan
planet Jupiter dan salah
satu bulan satelitnya,
bernama Io[12][13].
Dengan menghitung
pergeseran periode orbit
Io, Rømer memperkirakan
jarak tempuh cahaya pada
diameter orbit bumi
sekitar 22 menit[14]. Jika
pada saat itu Rømer
mengetahui angka
diameter orbit bumi,
kalkulasi kecepatan
cahaya yang dibuatnya
akan mendapatkan angka
227×106 meter/detik.
Dengan data Rømer ini,
Christiaan Huygens
mendapatkan estimasi
kecepatan cahaya pada
sekitar 220×106 meter/
detik. Penemuan awal
penemuan grup ini
diumumkan oleh Giovanni
Domenico Cassini pada
tahun 1675, periode Io,
bulan satelit planet Jupiter
dengan orbit terpendek,
nampak lebih pendek
pada saat Bumi bergerak
mendekati Jupiter
daripada pada saat
menjauhinya. Rømer
mengatakan hal ini terjadi
karena cahaya bergerak
pada kecepatan yang
konstan. Pada bulan
September 1676,
berdasarkan asumsi ini,
Rømer memperkirakan
bahwa pada tanggal 9
November 1676, Io akan
muncul dari bayang-
bayang Jupiter 10 menit
lebih lambat daripada
kalkulasi berdasarkan
rata-rata kecepatannya
yang diamati pada bulan
Agustus 1676.[15]. Setelah
perkiraan Rømer terbukti,
[16] dia diundang oleh
French Academy of
Sciences[17] untuk
menjelaskan metode yang
digunakan untuk hal
tersebut.

Rahasia MenembusLorong Waktu

Sebentar lagi impian manusia untuk bisa mengetahui masa depan atau keinginannya untuk kilas balik ke masa silamnya bakal segera terwujud melalui fakta-fakta dan kejadian yang pernah dialami manusia, juga melalui penjelasan ilmiah tentunya. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Dan persiapan apa yang akan kita lakukan untuk menembus mesin waktu ala doraemon tersebut? Waktu menurut Al Qur’an adalah relatif sebagaimana firmannya “ Dia mengatur urusan langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS As Sajdah: 5). Hal ini sejalan dengan keilmuan yang dibangun Einstein dalam teori relativitasnya bahwa waktu tak bisa bersifat absolut melainkan relatif. Kenyataan inilah yang mengundang fakta menakjubkan berupa kisah-kisah abadi di dalam Al Qur’an, seperti kisah tujuh penghuni gua ataupun kisah Isra’ Mirajnya Rasulullah dari Masjidil Haram, ke Masjidil Aqsa hingga ke langit shaf tujuh dalam satu malam. Pelajaran ilmiah yang dapat kita petik adalah, waktu sama sekali tak terikat ruang. Seseorang yang seharusnya kelihatan tua pada sepuluh tahun mendatang tidak mesti kelihatan tua jika Ia mengalami satu keajaiban tertentu berupa fenomena aneh yang sampai kini masih terus diselidiki oleh para ahli. Baiklah, sebelum kita membuka itu semua kita tarik contoh-contoh kejadian yang tidak terikat ruang dan waktu. Al Qur’an mengisahkan tentang tujuh orang beriman yang dikejar-kejar oleh raja lalim kemudian sampai bersembunyi di sebuah gua. Sesampai di gua Ia terserang kantuk yang luar biasa kemudian tertidur pulas. Sementara di luar berjaga seekor anjing yang setia menemani. Entah sampai berapa lama mereka tidur, begitu bangun mereka mendapati perut mereka sangat lapar dan mereka membutuhkan makanan. Maka diambillah beberapa koin uang untuk membeli nasi, hingga terus berhati-hati jangan sampai mata-mata raja lalim itu mengawasi. Begitu keluar dari pintu gua, Ia mendapati anjingnya telah menjadi tulang belulang, kemudian uang yang dipergunakan untuk berbelanja nasi sudah tidak laku lagi, bahkan konon sudah kadaluarsa selama 309 tahun yang lalu. Anehnya meski mereka telah tertidur selama ratusan tahun mereka tidak mengalami ketuaan, keriput dan tanda-tanda alam lainnya yang memperlihatkan mereka telah melewati bentangan waktu yang sedemikian lama. Itu fakta pertama. Fakta kedua, kejadian Isra’ Miraj, dimana Rasulullah pernah diperjalankan oleh Allah dengan menembus Sidratul Muntaha— langit shaf ke tujuh dalam satu malam. Adalah sangat mustahil dan tak mungkin terjadi. Logika manapun tak mungkin membenarkan kejadian itu, tetapi Al Qur’an yang tak mungkin terbantah kebenarannya menceritakan itu dengan sangat gamblang. Bagaimana itu bisa terjadi? Dalam sejarah yang pernah kita baca kita tentu tahu, ada seseorang, kapal-kapal, pesawat terbang dan lain-lain sebagainya yang hilang secara misterius seperti yang sering kita dengar di perairan Segitiga Bermuda, sebenarnya adalah masuk ke dalam lorong waktu yang misterius ini. Dalam penyelidikannya terhadap lorong waktu, John Buckally mengemukakan teori hipotesanya sebagai berikut. Pertama, obyektifitas keberadaan lorong waktu adalah bersifat kematerialan, tidak terlihat, tidak dapat disentuh, tertutup untuk dunia fana kehidupan umat manusia, namun tidak mutlak, karena terkadang ia akan membukanya. Kedua, lorong waktu dengan dunia manusia bukanlah suatu sistem waktu, setelah memasuki seperangkat sistem waktu, ada kemungkinan kembali ke masa lalu yang sangat jauh, atau memasuki masa depan, karena di dalam lorong waktu tersebut, waktu dapat bersifat searah maupun berlawanan arah, bisa bergerak lurus juga bisa berbalik, dan bahkan bisa diam membeku. Ketiga, terhadap dunia fana (ruang fisik kita) di bumi, jika memasuki lorong waktu, berarti hilang secara misterius, dan jika keluar dari lorong waktu itu, maka artinya adalah muncul lagi secara misterius. Disebabkan lorong waktu dan bumi bukan merupakan sebuah sistem waktu, dan karena waktu bisa diam membeku, maka meskipun telah hilang selama 3 tahun, 5 tahun, bahkan 30 atau 50 tahun, waktunya sama seperti dengan satu atau setengah hari, karena hakikatnya kita tidak berada dalam lingkaran waktu tersebut. Partikel Ghaib Terhadap fenomena waktu yang tidak tergantung ruang ini sekali lagi ilmuwan punya penemuan yang unik para ilmuwan sudah menemukan partikel gaib yang terdapat di alam semesta yang bahkan jauh lebih cepat dibanding dengan kecepatan cahaya, dalam penelitiannya para ilmuwan mendapati ketika pesawat antariksa melewati gravitasi, gaya tarik medan gravitasi diubah menjadi tenaga pendorong, maka dalam waktu itu, pesawat antariksa bisa terbang dengan kecepatan cahaya bahkan dengan kecepatan cahaya ultra. Penjelasan Ilmiah Isra’ Miraj Barangkali inilah yang menjadi rahasia dari peristiwa Isra’ Miraj menjadi sangat ilmiah, sebagaimana yang diungkapkan Agus Mustofa dalam bukunya Terpesona Sidratul Muntaha, bahwa partikel atau zat yang mensukseskan Rasulullah menembus langit ketujuh adalah sejenis eter sebagai zat pembawa sekaligus perantara daya elektromagnetik. Eter adalah udara yang ringan sekali, lebih ringan dari udara yang dihirup oleh manusia: O2 Menurut Ilmu Metafisika, Rasul naik ke ruang angkasa melakukan perjalanan Mi’rajnya tentu membutuhkan zat pembawa yang lebih halus dari jiwa atau rohaninya. Oleh karena itu, makhluk hidup yang memiliki dua jasad: jasmani dan rohani, maka diperlukan zat pembawa yang lebih halus dari rohani itu sendiri dan mampu mengangkat jasmani Rasul sekaligus, zat ini adalah malaikat jibril dan sebuah kendaraan bernama buraq yang konon lebih cepat dari kecepatan cahaya. Dari sini mungkin kita baru paham bahwa buraq dan malaikat jibril tentunya lebih cepat dari cahaya dengan demikian tidak terikat oleh waktu atau berada dalam sistem waktu yang berlaku, jadi akan berapa harikah perjalanan sejauh apapun, hal ini tetaplah mungkin
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls