Selasa, 11 Januari 2011

Ternyata lambang Garuda IndonesiaTerinspirasi lambang dewa Mesir



Penindasan tidak hanya
berupa fisik dengan
menjadikan mereka budak
tetapi juga berlanjut
terhadap generasi mereka.
Firaun dalam sejarah yang
masyhur ia adalah Ramses
II, juga memerintahkan
untuk membunuh anak
laki-laki Bani Israel dan
para perempuannya
dipermalukan. Dalam
konteks modern,
mempermalukan
perempuan berarti
dijadikan pelacur atau
dijadikan obyek senonoh
dalam bentuk tarian
setengah telanjang atau
dijadikan pelayan dengan
pakaian setengah
telanjang.
Itu semua dilakukan oleh
Firaun tanpa ampun.
Setelah lama menjadi
budak, kira-kira hampir
400 tahun lamanya, Bani
Israel pun akhirnya
mendapatkan seorang
penolong yang pernah
menjadi anak angkat
Firaun sendiri yaitu Musa.
Nama Musa sendiri adalah
dari bahasa Kopti tua,
gabungan di antara dua
kata, Mu dan Sa. Mu
artinya air dan Sa artinya
pohon. Jadi Musa berarti
pohon air. Demikian yang
penulis nukil dari tafsir Al
Azhar milik ulama
panutan penulis, Buya
Hamka di juz ke-9.



Horus, salah satu Dewa
Mesir.
Kini dipakai menjadi
simbol negara termasuk
Indonesia


Beliau dinamai demikian
sebab di waktu bayi
beliau dilemparkan oleh
ibunya ke sungai Nil
dengan diletakkan di
dalam sebuah peti kayu,
lalu dipungut oleh puteri
Firaun kemudian
dipelihara yang oleh Allah
menjadikan Musa the
enemy of Firaun?s enemy.
Singkat kata, setelah adu
kekuatan antara sihir dan
mukjizat Allah di hadapan
seluruh rakyat Mesir,
Firaun semakin gusar akan
kehadiran Nabi Musa di
Mesir dengan misinya :
Pembebasan Bani israel.
Kegusaran Firaun bukan
hanya terletak pada tiada
artinya kekuasaanya di
mata Nabi Musa akan
halnya ia sebagai
Tuhannya bangsa Mesir,
tetapi juga akan tiadanya
Bani Israel di tanah Mesir.
Apalah artinya seorang
raja diraja tanpa budak
belian yang hina? Tidak
ada seorang pun yang jadi
raja jika tidak ada yang
menjadi budak. Prinsip
sederhana ini merupakan
alasan Firaun untuk tidak
melepaskan Bani Israel
dari tanah Mesir. Bani
Israel dihina tapi juga
dibutuhkan. Bani Israel
ditindas tapi juga berguna
atas nama pembangunan.
Sebuah kisah klasik
hingga di zaman modern:
suatu bangsa ditindas
akan hak-haknya tapi
dibutuhkan dalam
perekonomian atas nama
Negara.
Kita dapat melihatnya
sekarang maka kaum
buruh dengan upah yang
murah tapi tidak
diperhatikan akan hak-
haknya. Meski demikian,
para buruh tersebut
sangat dibutuhkan untuk
menggerakkan roda
perekonomian Negara.
Menjadi budak di Negara
sendiri? Boleh jadi
demikian.


sumber :http://
www.slowbos.com/
showthread.php?
s=2e2afad76b91e47f6f52ed795a1fd899&t=97601

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan sopan

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls