Minggu, 07 November 2010

Aneh! SemuaTumbuhan LayuKena WedusGembel Merapi TapiPadi Tetap Hijau



Hulu Sungai Gendol di
wilayah atas Cangkringan,
Kabupaten Sleman,
Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY), yang
berjarak sekitar 5 km dari
puncak Merapi, berubah
menjadi gunungan setelah
Kamis (4/11/2010) malam
lalu tertimbun material
vulkanik Merapi. “Sebelum
terimbun, sungai ini lebar
dan dalam, kira-kira
sedalam 30 meter. Seperti
jurang kalau dilihat dari
tepi sungai, ” kata
Suwarjo, 42, penduduk
setempat, yang
meninggalkan lokasi
pengungsian untuk
menengok rumahnya,
Sabtu (6/11/2010).
Ketika Antara mendatangi
lokasi pada Sabtu
(6/11/2010) siang, dan
menyaksikan hulu sungai
itu dari jarak 5 meter,
Suwarjo berteriak untuk
memperingatkan bahwa
material itu masih
mengandung bara. Bagi
orang luar, bukan
penduduk Cangkringan,
fenomena sungai Gendol
itu mencengangkan. Tak
ada tanda-tanda sama
sekali bahwa di bawah
ribuan ton lahar itu ada
sebuah sungai sedalam
jurang. Aroma belerang
yang menyengat tercium
di kawasan berbahaya ini.
Lihatlah saat semua
tumbuhan layu terkena
panas awan panas wedus
gembel, padi itu tetap
bersemi hijau
Di sekitar hulu sungai
terdapat perkampungan
penduduk yang sudah
mengungsi. Atap rumah-
rumah dan daun-daun
pepohonan besar
tertutupi abu dan pasir.
Kebun salak luluh lantak,
porak-poranda.
Cangkringan menjadi
kawasan mati, dengan
kerusakan yang masif.
Kawasan lereng Merapi
yang mengalami
kehancuran di mana-mana
terjadi di Desa Glagaharjo.
Sepanjang jalan menuju
puncak Merapi, pohon-
pohon bertumbangan.
Tiang listrik dari beton
patah. Tiang besi telepon
pun roboh, membuat
saluran kabel-kabelnya
terburai.
Secara ilmiah bisa
dijelaskan saat awan
panas menerpa benih padi
tadi belum bersemi, dan
beberapa saat kemudian
setelah semua usai padi
bersemi dengan subur
karena abu vulkanik
sangat baik dan subur
bagi tumbuh-tumbuhan
Sejumlah rumah
penduduk tampak
berantakan. “Hujan pasir
campur lahar membuat
semuanya seperti ini, ”
kata seorang penduduk
setempat yang sedang
menengok rumahnya.
Nuansa Magis
Pemandangan di
Cangkringan yang
mengalami kerusakan di
mana-mana itu terasa
magis. Semua pohon
besar bisa tumbang atau
dahan-dahannya patah.
Daun-daun pohon kelapa
lunglai berwarna cokelat
kusam setelah tertimpa
hujan pasir dan lahar.
Perkebunan salak morat-
marit. Tanaman jagung
hanya tinggal onggokan
kusam di pematang.
Namun, hamparan padi
yang baru disemai, yang
baru setinggi 10 senti
meter, sama sekali utuh
dengan warna kehijauan
yang menyegarkan. “Aneh
bin ajaib. Pohon besar
bertumbangan. Padi yang
baru tumbuh itu seperti
tak tersentuh lahar
Merapi, ” komentar
seorang yang mengantar
Antara memasuki wilayah
maut itu.
Pengamatan lapangan di
Glagaharjo itu tak
berlangsung lama karena
seorang relawan yang
datang mengingatkan
untuk segera menjauh
dari puncak Merapi. Suara
hujan angin disertai
gelegak seperti air
mendidih, yang datang
dari perut Merapi itu,
semakin menyadarkan
bahwa Merapi bisa
muntah sewaktu-waktu.
Aktivis-relawan penolong
korban Merapi itu seperti
mulai mengenal tabiat
Merapi. Dia segera
menarik pegas motornya
dan melaju menjauh dari
puncak Merapi. Dia tak
mau berpacu melawan
kecepatan lahar Merapi
yang oleh pakar geologi
diibaratkan sekencang
mobil Formula Satu itu.



Sumber: Antara
sumber : ruanghati.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan sopan

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls