Kamis, 11 November 2010

Rahasia Segitiga SegitigaBermuda Bermuda Di Di China China


Lebih
dari
200
kapal
dan
perahu
lenyap
selama
30
tahun.
Sejumlah
media
besar
China melaporkan adanya
perairan berbahaya di
Danau Poyang, danau
terbesar di China, Pada 20
Oktober 2010. Danau
Poyang dikenal sebagai
‘Segitiga Bermuda di
Timur.’
Lebih dari 200 perahu
tenggelam di perairan
tersebut selama 30 tahun.
1.600 orang dinyatakan
hilang dan sekitar 30
korban mengalami sakit
mental.
Segitiga Bermuda ini
terletak di utara Danau
Poyang, Wilayah Duchang,
Provinsi Jiangxi. Disebelah
utara danau tersebut
terdapat kuil yang disebut
kuil Laoye. Oleh sebab itu
penduduk setempat
menyebut perairan itu
sebagai perairan kuil
Laoye.
Di antara kapal yang
hilang di wilayah itu, salah
satunya ada yang
berbobot 2.000 ton.
Peristiwa ini terjadi pada 3
Agustus 1985 bersama 13
kapal dan perahu lain
yang mengalami musibah
di perairan tersebut. Yang
menjadi misteri adalah
kapal itu tidak dapat
ditemukan meskipun telah
dilakukan upaya-upaya
pencarian secara
maksimal.
Menurut sejumlah laporan
media, banyak nelayan
setempat berdoa dengan
membakar dupa atau
mengadakan upacara
sebelum mereka
melakukan perjalanan di
perairan itu.
“Badai dapat
menghantam setiap saat,”
ujar Zhang Xiaojin (50),
yang telah menjadi
nelayan di perairan kuil
Laoye selama 20 tahun.
Dia dan nelayan lainnya
selalu berhati-hati dengan
mengamati setiap
perubahan kecil di danau
tersebut, seberapapun
jauhnya mereka memasuki
danau itu.
“Saya teringat, pada suatu
hari di musim dingin
tahun 2001, kami berada
di tengah danau. Awalnya
semua terlihat baik-baik
saja, namun tiba-tiba
cuaca berubah secara
mendadak. Gelombang
menjadi begitu dahsyat,
sehingga seluruh kapal
mencoba merapat ke tepi
danau,” ujar Wang
Fangren, seorang yang
telah berpengalaman
berlayar selama 50 tahun.
“Salah satu perahu
pengangkut pasir tiba-tiba
tenggelam.”
Menurut Wang, biasanya
terdapat tanda-tanda
sebelum badai dahsyat
menghantam. Namun
badai di perairan kuil
Laoye selalu datang tiba-
tiba.
“Badai biasanya
berlangsung sekitar 20
menit dan normal kembali
seolah tidak pernah
terjadi apapun,” ujarnya.
Pada 16 April 1945, sebuah
kapal Jepang tenggelam di
perairan kuil Laoye. Tak
satupun dari 20 awaknya
selamat.
Setelah itu Jepang
mengirim tim penyelamat
bawah air. Hanya satu
orang yang dapat kembali
dan sisanya menghilang
tanpa bekas. Orang yang
selamat ini terlihat
ketakutan, setelah dia
menanggalkan pakaian
renangnya, dia hilang
ingatan.
Kemudian, sebuah misi
penyelamatan dilakukan
selama beberapa bulan,
namun tidak ada apapun
yang dapat ditemukan
dan beberapa penyelam
Amerika-pun juga turut
lenyap tanpa bekas.
Han Lixian, salah seorang
penduduk kota Duchang
mengatakan, “Pada tahun
1977, orang-orang di
wilayah ini membangun
tiga bendungan, salah
satunya dibangun dekat
perairan kuil Laoye. Suatu
malam bendungan dengan
panjang 2.000 kaki, lebar
165 kaki dan dengan
ketinggian 16 meter di
atas air itu, tenggelam
tanpa gemuruh
sedikitpun.”
Angin Aneh
Beberapa waktu lalu,
seorang wartawan dari
Harian Jiangxi pergi ke
perairan kuil Laoye
bersama sejumlah
ilmuwan. Ketika dia
berdiri di kuil Laoye, dia
merasakan angin kencang
bertiup dari arah selatan
menuju utara. Namun
ketika dia melihat air,
percikannya terlihat
bertiup dari arah utara ke
selatan. Tampaknya angin
sedang bertiup dari dua
arah yang berlawanan.
Kemudian, ketika angin
bertiup kencang, percikan
air di danau tidak
membentuk garis lurus
namun dalam bentuk ‘V’.
Angin aneh dan percikan
ini membuat sulit bagi
nelayan untuk memberi
tahu arah Perahu-Perahu
Jungkir-balik Tanpa
Terlihat Ombak maupun
Angin. Bagaimanapun,
orang percaya bahwa
angin aneh ini yang
membuat perairan ini
menjadi berbahaya. Jin,
kepala biara kuil Laoye,
mengatakan bahwa pada
5 Maret lalu, saat cuaca
cerah, sebuah kapal
berbobot 1.000 ton,
terbalik diperairan
tersebut. Tidak ada yang
mengetahui apa
penyebabnya.
Dalam pandangan
peduduk setempat, ada
sebuah legenda yang
dapat menjelaskan apa
yang sebenarnya terjadi.
Ketika Zhu Yuanzhang,
pendiri Dinasti Yuan
mengobarkan perang
terhadap pesaingnya Chen
Youliang dekat danau
Poyang, Zhu kalah dan
mundur ke tepi danau.
Tidak ada perahu di
danau itu, namun seekor
kura-kura raksasa muncul
dan membantu Zhu
menyeberangi danau
tersebut.
Setelah Zhu menjadi
kaisar, dia menjadikan
kura-kura sebagai jenderal
dan membangun kuil
Laoye dekat danau itu
untuk mengenang kura-
kura tersebut. Penduduk
setempat yakin bahwa roh
penyu itulah yang telah
mengganggu para
nelayan.
Seorang pakar setempat
mengatakan kepada
media bahwa mereka
telah menemukan apa
yang menyebabkan
perairan tersebut
berbahaya.
“Sebuah gambar infra
merah menunjukkan
bahwa terdapat tebing
pasir dengan ketinggian
sekitar 6.600, melintang
dari timur ke barat, di
bawah perairan kuil
Laoye. Hal inilah yang
mengakibatkan
terciptanya pusaran air di
bawah danau. Pusaran ini
sangat memungkinkan
menarik dan
menenggelamkan kapal
dan sejumlah perahu,”
ujar laporan tersebut.
Namun, teori ini belum
dapat menjelaskan
mengapa bangkai-bangkai
kapal yang tenggelam
tidak pernah ditemukan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan sopan

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls