Selasa, 09 November 2010

Sejarah HariPahlawan

Hari Pahlawan
Tanggal 1 Maret 1942,
tentara Jepang mendarat
di Pulau Jawa, dan tujuh
hari kemudian tanggal 8
Maret 1942, pemerintah
kolonial Belanda
menyerah tanpa syarat
kepada Jepang
berdasarkan Perjanjian
Kalijati. Setelah
penyerahan tanpa syarat
tesebut, Indonesia secara
resmi diduduki oleh
Jepang.
Tiga tahun kemudian,
Jepang menyerah tanpa
syarat kepada sekutu
setelah dijatuhkannya
bom atom (oleh Amerika
Serikat) di Hiroshima dan
Nagasaki. Peristiwa itu
terjadi pada bulan
Agustus 1945. Dalam
kekosongan kekuasaan
asing tersebut, Soekarno
kemudian
memproklamirkan
kemerdekaan Indonesia
pada tanggal 17 Agustus
1945.
Setelah
kekalahan
pihak
Jepang,
rakyat
dan
pejuang
Indonesia
berupaya
melucuti
senjata
para
tentara
Jepang.
Maka
timbullah
pertempuran-pertempuran
yang memakan korban di
banyak daerah. Ketika
gerakan untuk melucuti
pasukan Jepang sedang
berkobar, tanggal 15
September 1945, tentara
Inggris mendarat di
Jakarta, kemudian
mendarat di Surabaya
pada tanggal 25 Oktober
1945. Tentara Inggris
datang ke Indonesia
tergabung dalam AFNEI
(Allied Forces Netherlands
East Indies) atas
keputusan dan atas nama
Blok Sekutu, dengan tugas
untuk melucuti tentara
Jepang, membebaskan
para tawanan perang yang
ditahan Jepang, serta
memulangkan tentara
Jepang ke negerinya.
Namun selain itu tentara
Inggris yang datang juga
membawa misi
mengembalikan Indonesia
kepada administrasi
pemerintahan Belanda
sebagai negeri jajahan
Hindia Belanda. NICA
(Netherlands Indies Civil
Administration) ikut
membonceng bersama
rombongan tentara Inggris
untuk tujuan tersebut. Hal
ini memicu gejolak rakyat
Indonesia dan
memunculkan pergerakan
perlawanan rakyat
Indonesia di mana-mana
melawan tentara AFNEI
dan pemerintahan NICA.
Setelah munculnya
maklumat pemerintah
Indonesia tanggal 31
Agustus 1945 yang
menetapkan bahwa mulai
1 September 1945 bendera
nasional Sang Saka Merah
Putih dikibarkan terus di
seluruh wilayah Indonesia,
gerakan pengibaran
bendera tersebut makin
meluas ke segenap
pelosok kota Surabaya.
Klimaks gerakan
pengibaran bendera di
Surabaya terjadi pada
insiden perobekan
bendera di Yamato
Hoteru / Hotel Yamato
(bernama Oranje Hotel
atau Hotel Oranye pada
zaman kolonial, sekarang
bernama Hotel Majapahit)
di Jl. Tunjungan no. 65
Surabaya.
Sekelompok orang
Belanda di bawah
pimpinan Mr. W.V.Ch.
Ploegman pada sore hari
tanggal 18 September
1945, tepatnya pukul 21.00,
mengibarkan bendera
Belanda (Merah-Putih-
Biru), tanpa persetujuan
Pemerintah RI Daerah
Surabaya, di tiang pada
tingkat teratas Hotel
Yamato, sisi sebelah
utara. Keesokan harinya
para pemuda Surabaya
melihatnya dan menjadi
marah karena mereka
menganggap Belanda
telah menghina
kedaulatan Indonesia,
hendak mengembalikan
kekuasan kembali di
Indonesia, dan
melecehkan gerakan
pengibaran bendera
Merah Putih yang sedang
berlangsung di Surabaya.
Tak lama setelah
mengumpulnya massa di
Hotel Yamato, Residen
Soedirman, pejuang dan
diplomat yang saat itu
menjabat sebagai Wakil
Residen (Fuku Syuco
Gunseikan) yang masih
diakui pemerintah Dai
Nippon Surabaya Syu,
sekaligus sebagai Residen
Daerah Surabaya
Pemerintah RI, datang
melewati kerumunan
massa lalu masuk ke hotel
Yamato dikawal Sidik dan
Hariyono. Sebagai
perwakilan RI dia
berunding dengan Mr.
Ploegman dan kawan-
kawannya dan meminta
agar bendera Belanda
segera diturunkan dari
gedung Hotel Yamato.
Dalam perundingan ini
Ploegman menolak untuk
menurunkan bendera
Belanda dan menolak
untuk mengakui
kedaulatan Indonesia.
Perundingan berlangsung
memanas, Ploegman
mengeluarkan pistol, dan
terjadilah perkelahian
dalam ruang perundingan.
Ploegman tewas dicekik
oleh Sidik, yang kemudian
juga tewas oleh tentara
Belanda yang berjaga-jaga
dan mendengar letusan
pistol Ploegman,
sementara Soedirman dan
Hariyono melarikan diri ke
luar Hotel Yamato.
Sebagian pemuda berebut
naik ke atas hotel untuk
menurunkan bendera
Belanda. Hariyono yang
semula bersama
Soedirman kembali ke
dalam hotel dan terlibat
dalam pemanjatan tiang
bendera dan bersama
Koesno Wibowo berhasil
menurunkan bendera
Belanda, merobek bagian
birunya, dan mengereknya
ke puncak tiang bendera
kembali sebagai bendera
Merah Putih.
Setelah insiden di Hotel
Yamato tersebut, pada
tanggal 27 Oktober 1945
meletuslah pertempuran
pertama antara Indonesia
melawan tentara Inggris .
Serangan-serangan kecil
tersebut di kemudian hari
berubah menjadi serangan
umum yang banyak
memakan korban jiwa di
kedua belah pihak
Indonesia dan Inggris,
sebelum akhirnya Jenderal
D.C. Hawthorn meminta
bantuan Presiden Sukarno
untuk meredakan situasi.
Setelah gencatan senjata
antara pihak Indonesia
dan pihak tentara Inggris
ditandatangani tanggal 29
Oktober 1945, keadaan
berangsur-angsur mereda.
Walaupun begitu tetap
saja terjadi bentrokan-
bentrokan bersenjata
antara rakyat dan tentara
Inggris di Surabaya.
Bentrokan-bentrokan
bersenjata di Surabaya
tersebut memuncak
dengan terbunuhnya
Brigadir Jenderal Mallaby,
(pimpinan tentara Inggris
untuk Jawa Timur), pada
30 Oktober 1945 sekitar
pukul 20.30. Mobil Buick
yang ditumpangi Brigadir
Jenderal Mallaby
berpapasan dengan
sekelompok milisi
Indonesia ketika akan
melewati Jembatan Merah.
Kesalahpahaman
menyebabkan terjadinya
tembak menembak yang
berakhir dengan tewasnya
Brigadir Jenderal Mallaby
oleh tembakan pistol
seorang pemuda
Indonesia yang sampai
sekarang tak diketahui
identitasnya, dan
terbakarnya mobil
tersebut terkena ledakan
granat yang menyebabkan
jenazah Mallaby sulit
dikenali. Kematian
Mallaby ini menyebabkan
pihak Inggris marah
kepada pihak Indonesia
dan berakibat pada
keputusan pengganti
Mallaby, Mayor Jenderal
Eric Carden Robert
Mansergh untuk
mengeluarkan ultimatum
10 November 1945 untuk
meminta pihak Indonesia
menyerahkan
persenjataan dan
menghentikan perlawanan
pada tentara AFNEI dan
administrasi NICA.
Tom Driberg, seorang
Anggota Parlemen Inggris
dari Partai Buruh Inggris
(Labour Party). Pada 20
Februari 1946, dalam
perdebatan di Parlemen
Inggris (House of
Commons) meragukan
bahwa baku tembak ini
dimulai oleh pasukan
pihak Indonesia. Dia
menyampaikan bahwa
peristiwa baku tembak ini
disinyalir kuat timbul
karena kesalahpahaman
20 anggota pasukan India
pimpinan Mallaby yang
memulai baku tembak
tersebut tidak mengetahui
bahwa gencatan senjata
sedang berlaku karena
mereka terputus dari
kontak dan
telekomunikasi. Berikut
kutipan dari Tom Driberg:
"... Sekitar 20 orang
(serdadu) India (milik
Inggris), di sebuah
bangunan di sisi lain alun-
alun, telah terputus dari
komunikasi lewat telepon
dan tidak tahu tentang
gencatan senjata. Mereka
menembak secara
sporadis pada massa
(Indonesia). Brigadir
Mallaby keluar dari diskusi
(gencatan senjata),
berjalan lurus ke arah
kerumunan, dengan
keberanian besar, dan
berteriak kepada serdadu
India untuk menghentikan
tembakan. Mereka patuh
kepadanya. Mungkin
setengah jam kemudian,
massa di alun-alun
menjadi bergolak lagi.
Brigadir Mallaby, pada
titik tertentu dalam
diskusi, memerintahkan
serdadu India untuk
menembak lagi. Mereka
melepaskan tembakan
dengan dua senapan Bren
dan massa bubar dan lari
untuk berlindung;
kemudian pecah
pertempuran lagi dengan
sungguh gencar. Jelas
bahwa ketika Brigadir
Mallaby memberi perintah
untuk membuka
tembakan lagi,
perundingan gencatan
senjata sebenarnya telah
pecah, setidaknya secara
lokal. Dua puluh menit
sampai setengah jam
setelah itu, ia (Mallaby)
sayangnya tewas dalam
mobilnya-meskipun (kita)
tidak benar-benar yakin
apakah ia dibunuh oleh
orang Indonesia yang
mendekati mobilnya; yang
meledak bersamaan
dengan serangan
terhadap dirinya
(Mallaby). Saya pikir ini
tidak dapat dituduh
sebagai pembunuhan
licik... karena informasi
saya dapat secepatnya
dari saksi mata, yaitu
seorang perwira Inggris
yang benar-benar ada di
tempat kejadian pada saat
itu, yang niat jujurnya
saya tak punya alasan
untuk pertanyakan ... "
Setelah terbunuhnya
Brigadir Jenderal Mallaby,
penggantinya, Mayor
Jenderal Robert Mansergh
mengeluarkan ultimatum
yang menyebutkan bahwa
semua pimpinan dan
orang Indonesia yang
bersenjata harus melapor
dan meletakkan
senjatanya di tempat yang
ditentukan dan
menyerahkan diri dengan
mengangkat tangan di
atas. Batas ultimatum
adalah jam 6.00 pagi
tanggal 10 November 1945.
Ultimatum tersebut
kemudian dianggap
sebagai penghinaan bagi
para pejuang dan rakyat
yang telah membentuk
banyak badan-badan
perjuangan / milisi.
Ultimatum tersebut
ditolak oleh pihak
Indonesia dengan alasan
bahwa Republik Indonesia
waktu itu sudah berdiri,
dan Tentara Keamanan
Rakyat (TKR) juga telah
dibentuk sebagai pasukan
negara. Selain itu, banyak
organisasi perjuangan
bersenjata yang telah
dibentuk masyarakat,
termasuk di kalangan
pemuda, mahasiswa dan
pelajar yang menentang
masuknya kembali
pemerintahan Belanda
yang memboncengi
kehadiran tentara Inggris
di Indonesia.
Pada 10 November pagi,
tentara Inggris mulai
melancarkan serangan
berskala besar, yang
diawali dengan bom udara
ke gedung-gedung
pemerintahan Surabaya,
dan kemudian
mengerahkan sekitar
30.000 infanteri, sejumlah
pesawat terbang, tank,
dan kapal perang.
Berbagai bagian kota
Surabaya dibombardir dan
ditembak dengan meriam
dari laut dan darat.
Perlawanan pasukan dan
milisi Indonesia kemudian
berkobar di seluruh kota,
dengan bantuan yang
aktif dari penduduk.
Terlibatnya penduduk
dalam pertempuran ini
mengakibatkan ribuan
penduduk sipil jatuh
menjadi korban dalam
serangan tersebut, baik
meninggal mupun terluka.
Di luar dugaan pihak
Inggris yang menduga
bahwa perlawanan di
Surabaya bisa ditaklukkan
dalam tempo tiga hari,
para tokoh masyarakat
seperti pelopor muda
Bung Tomo yang
berpengaruh besar di
masyarakat terus
menggerakkan semangat
perlawanan pemuda-
pemuda Surabaya
sehingga perlawanan
terus berlanjut di tengah
serangan skala besar
Inggris. Tokoh-tokoh
agama yang terdiri dari
kalangan ulama serta
kyai-kyai pondok Jawa
seperti KH. Hasyim Asy'ari,
KH. Wahab Hasbullah
serta kyai-kyai pesantren
lainnya juga mengerahkan
santri-santri mereka dan
masyarakat sipil sebagai
milisi perlawanan (pada
waktu itu masyarakat
tidak begitu patuh kepada
pemerintahan tetapi
mereka lebih patuh dan
taat kepada para kyai)
shingga perlawanan pihak
Indonesia berlangsung
lama, dari hari ke hari,
hingga dari minggu ke
minggu lainnya.
Perlawanan rakyat yang
pada awalnya dilakukan
secara spontan dan tidak
terkoordinasi, makin hari
makin teratur.
Pertempuran skala besar
ini mencapai waktu
sampai tiga minggu,
sebelum seluruh kota
Surabaya akhirnya jatuh di
tangan pihak Inggris.
Setidaknya 6,000 pejuang
dari pihak Indonesia
tewas dan 200,000 rakyat
sipil mengungsi dari
Surabaya. Korban dari
pasukan Inggris dan India
kira-kira sejumlah 600.
Pertempuran berdarah di
Surabaya yang memakan
ribuan korban jiwa
tersebut telah
menggerakkan
perlawanan rakyat di
seluruh Indonesia untuk
mengusir penjajah dan
mempertahankan
kemerdekaan. Banyaknya
pejuang yang gugur dan
rakyat sipil yang menjadi
korban pada hari 10
November ini kemudian
dikenang sebagai Hari
Pahlawan oleh Republik
Indonesia hingga
sekarang.
Pertempuran Surabaya
merupakan peristiwa
sejarah perang antara
pihak tentara Indonesia
dan pasukan Belanda.
Peristiwa besar ini terjadi
pada tanggal 10 November
1945 di Kota Surabaya,
Jawa Timur. Pertempuran
ini adalah perang pertama
pasukan Indonesia dengan
pasukan asing setelah
Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia dan satu
pertempuran terbesar dan
terberat dalam sejarah
Revolusi Nasional
Indonesia yang menjadi
simbol nasional atas
perlawanan Indonesia
terhadap kolonialisme.
Sejarah Hari Pahlawan ini
sepenuhnya diambil dari
situs http://
id.wikipedia.org/wiki/
Peristiwa_10_November,
semoga dapat bermanfaat
buat kita semua.
Terimakasih.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan sopan

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls