Jumat, 24 September 2010

5 Fakta Fakta Musik MusikIndonesia IndonesiaMembosankan Membosankan di diDunia Dunia

Berikut ini merupakan
fakta-fakta yang terjadi di
sekitar kita, yang
mengakibatkan dunia
musik Indonesia menjadi
membosankan, antara
lain :
Plagiat
Plagiarisme adalah
penjiplakan atau
pengambilan karangan,
pendapat, dan sebagainya
dari orang lain dan
menjadikannya seolah
karangan dan pendapat
sendiri. Plagiat dapat
dianggap sebagai tindak
pidana karena mencuri
hak cipta orang lain. Di
dunia pendidikan, pelaku
plagiarisme dapat
mendapat hukuman berat
seperti dikeluarkan dari
sekolah/universitas.
Pelaku plagiat disebut
sebagai plagiator.
Di Indonesia sendiri
banyak plagiator-plagiator
yang tidak mengakui
bahwa dirinya plagiat
(meskipun banyak juga
yang tidak plagiat, namun
pamor mereka kalah oleh
yang plagiat), baik itu
penyanyi solo, group
band, pengarang lagu dan
banyak lagi. Mereka
beralasan, hanya meng-
influence aliran/genre
musiknya saja, dan itu
sudah menjadi satu
senjata andalan bagi
mereka untuk beralasan.
Dan ketika salah satu
penyanyi solo atau group
band sukses dengan ke-
plagiator-annya, maka
yang lain sepertinya
berlomba-lomba untuk
mengikuti jejak plagiator
sukses tersebut. Dan
akhirnya, semakin
membosankan musik
Indonesia.
Note : Di sini ane tidak
akan menampilkan contoh
dari plagiator-plagiator
tersebut, demi menjaga
nama baik mereka.
Mungkin dari rekan-rekan
pastinya sudah tahu siapa
saja dan group band
mana saja yang jelas-kelas
telah menjadi plagiator.
Lip-sync
Lip-sync atau lip-synch
adalah istilah teknis untuk
pencocokan gerakan bibir
dengan suara. Dalam
sebuah konser musik atau
siaran langsung di televisi,
lip sync merupakan hal
yang kontroversial.
Di negara China,
kementrian kebudayaan
telah mengeluarkan
kebijakan tentang lip sync
pada bulan Agustus 2009.
Kementerian
mengeluarkan kebijakan
itu karena menilai
bernyanyi lip sync
termasuk kebohongan
publik. Dan sebulan dari
itu, dua penyanyi China,
Starlets Yin Youcan dan
Fang Ziyuan kedapatan
hanya bercuap-cuap saat
mereka konser di Provinsi
Sichuan. Mereka di denda
sekitar 80 ribu yuan atau
RRp. 110 juta sekaligus
menjadi korban pertama
kebijakan kementrian
kebudayaan. Kebijakan itu
dikeluarkan karena pada
tahun 2008, panitia
Olimpiade Beijing
melakukan tindakan
kontroversial. Memasang
gadis muda yang
bernyanyi lip sync saat
upacara pembukaan
Olimpiade. Panitia
beralasan tindakan itu
dilakukan karena
penyanyi sebenarnya tidak
cukup cantik untuk
ditunjukkan ke seluruh
dunia.
Di Indonesia sendiri, lip
sync menjadi sesuatu yang
wajar dan pelaku nya pun
sepertinya nyaman-
nyaman saja (yang
penting di bayar kata
"mereka"). Banyak acara-
acara pagelaran musik
yang menggunakan "jasa"
lip sync, baik itu di
siarkan langsung oleh
televisi maunpun tidak.
Dan acara tersebut sukses
menyedot penonton dan
menaikkan rating acara
tersebut mengakibatkan
menjamurnya acara "lip
sync show" di berbagai
stasiun-stasiun televisi
swasta di Indonesia.
Namun, banyak juga
acara-acara konser musik
yang tidak menggunakan
"jasa" lip sync, seperti :
indiefest, soundrenalin,
dan banyak lagi.
Tema Lagu Yang Sama
Dalam hal pemilihan judul
lagu, hampir semua
penyanyi, group musik,
ataupun pencipta lagu
memiliki tema yang sama.
Ini membuat semakin
membosankannya musik
di Indonesia. Ketika
seorang penyanyi atau
group musik memiliki
sebuah lagu yang sukses
dengan tema, misalkan
"selingkuh", maka dengan
serempak penyanyi atau
group musik yang lain
membuat lagu dengan
tema tersebut (meskipun
tidak semua, tetapi
kebanyakannya begitu).
Mereka mencoba
peruntungannya dengan
tema lagu tersebut,
meskipun dengan musik
seadanya. Dan ini sangat-
sangat menyedihkan.
Pemaksaan Karakter
Mungkin hanya di
Indonesia saja yang
memiliki aktris/aktor
segala bidang. Pemain
sinetron, penyanyi,
pemain film layar lebar,
penulis lagu, presenter,
dan sebagainya bersatu
dalam satu karakter.
Mereka menyebutnya
"Aktris/aktor Serba Bisa".
Apakah dengan begitu,
bisa disebut "serba bisa"?
Belum tentu!. Karena
banyak contoh yang
memperlihatkan ke-lucu-
an tersebut. Seseorang
yang tidak memiliki bekal,
bahkan bakat dalam
dunia musik di paksakan
untuk terjun kedalam
dunia musik, maka yang
terjadi adalah ke-lucu-an.
Mereka menggunakan
label keartisannya untuk
mendongkrak popularitas
di dunia musik. Memang
itu hak mereka untuk
berbuat seperti itu, tapi
apakah mereka melihat
hak orang lain?!. Namun,
banyak juga yang asalnya
terjun di dunia perfilm-an
yang akhirnya hijrah ke
dunia musik dan sukses.
Selain dari kalangan artis,
banyak juga dari
sekelompok orang yang
mencoba untuk sukses di
dunia musik. Dan bagi
mereka yang tidak
memiliki bakat dalam
dunia musik, akhirnya
akan tenggelam seiring
dengan bermunculannya
sosok-sosok yang memiliki
bakat di dunia musik.
Kekuasaan Ada di Tangan
Major Label
Mungkin inilah penentu
seseorang atau
sekelompok orang sukses
atau tidaknya mereka
dalam dunia musik. Dan
ini merupakan fakta yang
sangat jelas. Major Label-
lah yang mengelola
rekaman suara dan
penjualannya, termasuk
promosi dan perlindungan
hak cipta. Mereka
biasanya memiliki kontrak
dengan artis-artis musik
dan manajer mereka. Dan
sepertinya sudah tidak
perlu di jelaskan lagi,
bagaimana major label -
major label yang ada di
Indonesia, sudah tahu
sama tahu. Kekuasaan
Major Label bisa sampai
ke kreativitas atau
improvisasi para musisi
yang di kontraknya
(mungkin di Indonesia
saja). Dan hampir semua
Major Label di Indonesia
seperti itu!
Namun di luar fakta di
atas, ane hanya ingin
menyampaikan sedikit
kritik tanpa maksud
menyinggung atau
melecehkan seseorang,
sekelompok atau bahkan
negara sendiri. Ini demi
kemajuan Musik
Indonesia. Dan bagi
seseorang, sekelompok
atau yang lainnya, yang
merasa tersinggung atau
tercemarkan nama
baiknya, ane mohon maaf.
BANGUN MUSIK
INDONESIA!
sumber http://o-
onews.blogspot.com/

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar dengan sopan

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls