Senin, 27 September 2010

Kenalan lebih jauh dengan ''KECOA''


SEMUA orang tahu kecoa.
Setiap kali melihatnya
orang cenderung bereaksi
dengan perasaan jijik.
Bahkan tak segan
membunuhnya. Kecoa
memang banyak terdapat
di sekitar kita. Pada
umumnya kecoa tinggal di
rumah-rumah atau
tempat-tempat
tersembunyi, memakan
hampir segala macam
makanan. Baunya yang
tidak sedap ditambah
kotoran dan kuman yang
ditinggalkan di setiap
tempat yang ia hinggapi,
membuat manusia
menyebutnya sebagai
binatang yang
menjijikkan. Tak heran,
keberadaan kecoa
dianggap sebagai
indikator sanitasi yang
buruk.
Kecoa kebanyakan hidup
di daerah tropis yang
kemudian menyebar ke
daerah sub tropis, bahkan
sampai ke daerah dingin.
Serangga yang hidupnya
mengalami metamorfosis
tidak sempurna ini
memang sangat menyukai
tempat-tempat yang kotor
dan bau. Bergelut dengan
kotoran dan bau tidak
menjadikan kecoa rentan
terhadap penyakit.
Sebaliknya, serangga ini
justru termasuk serangga
yang mampu bertahan
hidup dalam kondisi
ekstrem. Kemampuan
beradaptasinya tidak
perlu diragukan lagi.
300 juta tahun silam
Banyak ahli berpendapat,
kecoa sudah ada di
permukaan bumi ini sejak
300 juta tahun silam. Di
perkirakan jumlah kecoa
yang ada di permukaan
bumi saat ini mencapai
5.000 spesies, termasuk di
antaranya spesies kecoa
raksasa yang ditemukan di
hutan belantara
Kalimantan Timur tahun
2004 lalu. Jenis kecoa
raksasa ini dikategorikan
terbesar di dunia. Ukuran
tubuhnya mencapai 8-0
cm. Namun, kecoa raksasa
ini sangat lamban dalam
bergerak sehingga sangat
mudah ditangkap. Jenis
kecoa yang sering
dijumpai di daerah
permukiman adalah
Periplaneta americana
(kecoa amerika), Blatta
orientalis , Blatella
germanica, dan Suppella
longipalpa.
Daur hidup
Seperti serangga lainnya,
kecoa juga mengalami
daur hidup. Daur hidup
kecoa hanya mengalami
tiga stadium yaitu telur,
nimfa, dan dewasa. Untuk
menyelesaikan satu siklus
hidupnya kecoa butuh
waktu kurang lebih tujuh
bulan. Waktu yang sangat
lama bila dibandingkan
dengan daur hidup
serangga pengganggu
seperti nyamuk dan lalat.
Untuk stadium telur saja
kecoa butuh waktu 30-40
hari sampai telur itu
menetas. Telur kecoa
tidak diletakkan sendiri-
sendiri, namun secara
berkelompok. Kelompok
telur ini dilindungi oleh
selaput keras yang disebut
kapsul telur atau ootheca.
Satu kapsul telur biasanya
berisi 30-40 telur. Oleh
induk kecoa, kapsul telur
ini biasanya diletakkan di
tempat-tempat
tersembunyi atau pada
sudut-sudut dan
permukaan sekatan kayu
dan dibiarkan sampai
menetas. Namun, ada
beberapa jenis kecoa yang
kapsul telurnya menempel
pada ujung abdomen
induknya sampai menetas.
Jumlah telur yang
dihasilkan oleh satu jenis
spesies akan berbeda
dengan spesies yang lain.
Seekor Periplaneta
americana contohnya,
kecoa ini mampu
menghasilkan 86 kapsul
telur dengan selang waktu
peletakan telur yang satu
dengan lainnya rata-rata
empat hari. Berbeda
dengan Periplaneta
brunnea yang mampu
menghasilkan 30 kapsul
telur dengan selang waktu
peletakan 3-5 hari.
Sebuah kapsul telur yang
telah dibuahi oleh kecoa
jantan akan menghasilkan
nimfa. Nimfa hidup bebas
dan bergerak aktif. Nimfa
yang baru keluar dari
kapsul telur biasanya
berwarna putih. Seiring
bertambahnya umur,
warna ini akan berubah
menjadi cokelat. Seekor
nimfa akan mengalami
pergantian kulit beberapa
kali sampai dia menjadi
dewasa. Lamanya stadium
nimfa ini berkisar 5-6
bulan.
Pada Periplaneta
americana, stadium nimfa
bisa dikenali dengan jelas
yaitu dengan tidak adanya
sayap pada tubuhnya.
Sayap itu akan muncul
manakala kecoa ini sudah
mencapai stadium
dewasa. Dengan adanya
sayap pada stadium
dewasa ini menjadikan
kecoa lebih bebas
bergerak dan berpindah
tempat.
Vektor penyakit
Meskipun belum ada
penelitian yang pasti
tentang kecoa sebagai
vektor penyakit tertentu,
namun jika dilihat dari
kebiasaan dan habitat
hidupnya, kecoa sangat
mungkin menularkan
penyakit pada manusia.
Kuman penyakit yang
menempel pada tubuhnya
yang dibawa dari tempat-
tempat kotor akan
menempel di setiap
tempat yang dia hinggapi.
Karena alasan inilah
kecoa perlu dikendalikan
populasinya.
Pengendalian kecoa dapat
dilakukan dengan
berbagai cara, antara lain
dengan mengggunakan
insektisida seperti yang
beredar di pasaran.
Pengendalian secara fisik
juga dapat dilakukan
dengan cara menyiramkan
air panas pada kapsul-
kapsul telur kecoa
sehingga kapsul-kapsul itu
tidak sampai menetas.
Pencegahan keberadaan
kecoa di rumah juga perlu
dilakukan antara lain
dengan sanitasi rumah
yang baik. Cara ini jauh
lebih baik untuk
mengatasi kemungkinan
penyebaran penyakit yang
di perantarai oleh kecoa.
*** Sumber :
Heni Prasetyowati, S.Si.,
Alumni Fakultas Biologi
Universitas Jenderal
Soedirman
Joni Hendri, Am.A.K.
Alumni Analis Kesehatan,
Poltekkes Bandung dan
Teknisi Litkayasa di Loka
Litbang P2B2 Ciamis,
Balitbang Kesehatan RI

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan sopan

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls