Rabu, 22 September 2010

Kisah dariMohammed Salim,Pemain SepakbolaTanpa Sepatu yangMemukau Glasgow


Celtic adalah klub
sepakbola Eropa pertama
yang memiliki pemain
India, dan lebih jauh lagi,
bermain dengan kaki
telanjang.
Kisah luar biasa dari
Mohammed Salim ini,
yang berasal dari Kalkuta,
mengisahkan bagaimana
dia datang dan bermain
untuk Celti pada
1936-1937.
Boris Majumdar, editor
kepala dari Journal of the
History of Sport
mengatakan:” Ini
menunjukkan bahwa di
jaman Kerajaan, Celtic
telah meruntuhkan
halangan, dan bagaimana
pemain India ini telah
membuat takjub separuh
kota Glasgow.”
Salim terlahir di Kalkuta
pada 1904, saat masih
dikuasai oleh kolonial
Inggris. Menurut
majumdar:”Saat itu, pada
waktu kaum nasionalis
India berjuang untuk
kemerdekaan dari
kolonialisme Inggris,
banyak warga India yang
berfokus pada sepakbola
untuk melawan ejekan
Inggris bahwa orang India
tidak cukup bernyali
untuk memerintah diri
sendiri. Orang-orang India
bermain dengan kaki
telanjang dan meskipun
demikian, mereka bisa
mengalahkan pemain-
pemain Inggris yang
memakai sepatu yang
mana membuktikan
bahwa orang India tidak
lebih inferior dari orang
Inggris.”
Pada pertengahan tahun
‘30an, Salim, yang bermain
sebagai winger, adalah
pemain penting untuk
klub dari Kalkuta,
Mohammedan Sporting
Club. Salim membantu
mereka memenangkan 5
titel berturut-turut dari
liga Kalkuta.
Setelah memenangi liga
pada 1936, Salim diundang
untuk memainkan 2
pertandingan
persahabatan melawan
tim Olimpiade China.
Seorang sepupunya yang
bernama Hasheem yang
tinggal di Inggris, yang
saat itu sedang berada di
Kalkuta, menyaksikan
pertandingan pertama.
Melihat kemampuan luar
biasa dari Salim, Hasheem
meyakinkan Salim untuk
mencoba bermain di
Eropa.
Pada akhirnya Salim
memilih untuk mengikuti
Hasheem berlayar ke
Inggris alih-alih bermain di
laga kedua melawan tim
China, dan setelah
beberapa hari di London,
Hasheem membawa Salim
ke kota Glasgow,
Skotlandia, dan Celtic Park
(kandang dari Celtic FC)
Salim terkejut bahwa
semua pemain Celtic
adalah pemain
profesional.
Meskipun demikian, saat
ditanya apakah dirinya
mampu bersaing dengan
mereka, Salim
menganggukkan kepala
setuju, dan
kepercayaandiri dari Salim
menyemangati Hasheem
untuk berbicara dengan
Willie Maley, manager/
pelatih dari Celtic.
Hasheem
memberitahunya:”
Seorang pemain dari India
telah datang lewat kapal,
Mohon maukah anda
untuk mengetes
kemampuannya? Tapi ada
satu masalah kecil, Salim
bermain dengan kaki
telanjang.”
Maley tertawa, ide bahwa
pemain amatir India
bertelanjang kaki bersaing
dengan profesional dari
Skotlandia amat sulit
dipercayai. Tapi Hasheem
bersikeras dan sang
pelatih pun setuju untuk
mentest Salim. Salim
diminta
mendemonstrasikan
skillnya didepan 1000
orang anggota klub dan 3
pelatih.
Skill dari Salim, meskipun
bertelanjang kaki,
membuat mereka
terkesima dan mereka
memutuskan akan
memainkannya dalam
pertandingan melawan
Hamilton
Salim, dengan
bertelanjang kaki,
membuktikan diri dnegan
membantu Celtic menang
5-1. Di laga keduanya
melawan Galston, Celtic
menang 7-1 dan skillnya
membuatnya menjadi
headline dari Scottish
Daily Express, dengan
judul: Indian Juggler –
New Style.”
Surat kabar itu
menulis:”Sepuluh jari kaki
dari Salim, seorang
pemain celtic FC dari
India, telah menghipnotis
penonton di Parkhead
tadi malam. Dia
menyeimbangkan bola
dengan jempol kakinya,
meluncurkannya ke jari
kelingking, memutarnya,
dan dengan satu kaki
meloncat melewati bek
lawan.”
Sayangnya, setelah
beberapa bulan di
Skotlandia, Salim mulai
rindu rumah dan sangat
ingin kembali ke India.
Majumdar diberitahu oleh
putra dari Salim, Rashid
yang tinggal di Kalkuta:”
Celtic mencoba membujuk
ayah untuk tetap tinggal
dengan membuat sebuah
pertandingan amal atas
penghormatan kepada
Salim, dan berjanji
memberikan 5 persen dari
pemasukkan acara itu.
Ayah tidak tahu berapa
nilai dari 5 persen itu dan
mengatakan bahwa dia
akan memberikan
bagiannya kepada anak-
anak yatim yang diundang
sebagai tamu dalam
pertandingan amal itu. 5
persen itu bernilai sekitar
£1,800 (saat itu jumlah
tersebut sangat besar),
Salim terkejut, tapi Salim
tetap pada pendiriannya.”
Bertahun-tahun
kemudian, Rashid menulis
ke Celtic menyatakan
bahwa ayahnya sedang
sakit dan dia
membutuhkan uang untuk
pengobatan ayahnya.
Rashid berkata:” Saya
tidak ada maksud untuk
meminta uang. Saya
hanya ingin mengetest
apakah Mohammed Salim
masih hidup dalam
ingatan mereka. Dalam
keterkejutan saya, saya
menerima surat dari klub.
Di dalamnya terdapat cek
senilai £100. Saya senang,
bukan karena menerima
uang, tapi karena ayah
saya masih berada dalam
kebanggaan dari Celtic.
Saya bahkan tidak
menguangkan cek itu dan
akan menyimpannya
sampai saya mati.”
Majumdar mengatakan
bahwa Rashid meniympan
cek tersebut dan seragam
hoops sebagai ingatan
akan ayahnya di
Parkhead.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan sopan

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls