Minggu, 26 September 2010

Kisah hidup paktarno, pesulaptraditional,Inspiratiff gan!


Meski Master Tarno sering
tampil di televisi dan
acara-acara off-air,
kehidupannya tidaklah
berubah; tetap sederhana.
Televisi di rumahnya,
hadiah dari RCTI, sewaktu
ia tampil di acara The
Master untuk pertama
kalinya.
Sebelumnya, rumah Tarno,
di Jalan Duku Timur,
Kelurahan Semper Barat,
Cilincing, Jakarta Utara,
hanya "dihiasi" sebuah
televisi kuno yang sudah
tidak berfungsi.
"Saya kalau mau nonton
teve ya di rumah
tetangga. Sekarang bisa
nonton The Master di
rumah sendiri. Rasanya
seneng banget, nggak
pernah kebayang saya
bisa main sulap di televisi
dan ketemu pesulap
terkenal," kata Pak
Tarno .
Awalnya, pria yang
sebelumnya lama tinggal
di Warakas, Tanjung Priok
ini, mengaku ragu ketika
seorang tetangga
menyarankan dia ikut
audisi The Master.
"Ya waktu itu saya kan
tidak punya uang. Setelah
uang buat ongkos cukup,
saya mendaftar The
Master. Alhamdulillah
sekarang diajak
bergabung RCTI," kata Pak
Tarno.
Sejak kecil, Tarno diasuh
neneknya di Brebes, Jawa
Tengah, karena ayahnya
meninggal dunia dan
ibunya pergi ke Sumatera
untuk bekerja.
"Nenek saya orang tidak
mampu, jadi saya harus
bekerja, sejak kecil saya
sudah bekerja angon
kambing dan sapi milik
tetangga. Tapi dibayarnya
pakai padi dan diberikan
pada nenek," kenang Pak
Tarno.
Sekitar tahun 1974 ia
nekad merantau ke
Jakarta dengan
menumpang kereta
barang, hingga terdampar
di Warakas, Tanjung Priok,
Jakarta Utara.
Saat itu dia hanya punya
modal cangkul saja, tetapi
paculnya tidak digunakan
karena ada peluang
menjadi pedagang minyak
tanah. Setelah jual minyak
tanah, saya jual air
keliling, dan yang terakhir
sampai sekarang saya
jualan mainan anak-anak
keliling dengan sepeda
dan mangkal di
sekolahan .
Berdagang mainan anak-
anak setiap hari
berpindah dari sekolah
satu ke sekolah lainnya,
ternyata tidak juga
mencukupi hidupnya.
Bahkan untuk makan
sehari-hari saja kadang
tidak cukup. Dia nekad
niat puasa setiap hari dan
sering juga tidak punya
makanan untuk buka
puasa, katanya.
Meskipun miskin dan
serba kekurangan, namun
Pak Tarno tetap tabah
dan terus menekuni
pekerjaannya berjualan
mainan anak-anak. Selain
berpuasa dia pun sering
sholat hajat di tengah
malam dan dilanjutkan
dengan dzikir.
Suatu malam Pak Tarno
seperti ketemu wali. Pak
Tarno tidak sadar saat itu
dia sudah berpuasa
selama tiga tahun. Setelah
dzikir, tiba-tiba mulurnya
secara otomatis
mengucapkan kata-kata
seperti bahasa Jawa kuno,
dia hanya mengerti
artinya sebagian saja,
ungkap Pak Tarno.
Dia pun mengaku ada tiga
kalimat panjang yang
secara cepat bisa
dihafalnya. Keesokan
harinya, dia hanya bisa
termenung memikirkan
kejadian malam itu. Tetapi
akhirnya dia mengabaikan
yang telah terjadi.
Tetapi, ketika akan
berangkat menjajakan
dagangannya, Pak Tarno
tiba-tiba mempunyai ide
membuat permainan
sulap. Dia mulai mencoba-
coba permainan dari
kertas dan terpikir
kembali olehnya kata-kata
bahasa Jawa kuno yang
diperolehnya di tengah
malam sebelumnya.
"Itu seperti mantra, tetapi
saya pakai kata-kata itu
sampai sekarang sebagai
bumbu-bumbu sulap yang
saya mainkan. Setelah itu,
seperti ada ide terus
untuk membuat sulapan.
Ya maklum karena saya
tidak punya modal jadi
buat sulap yang
sederhana saja," katanya.
Karena penghasilannya
pas-pasan, bapak enam
putra ini terpaksa
menitipkan anak-anaknya
kepada familinya.
Keikhlasan Pak Tarno
menjalani hidup hingga
kini dan dibantu oleh
istrinya yang menjadi
buruh cuci baju di
tetangganya, terus
dipertahankan.
Aksi panggung
Aksi panggungnya dengan
gayanya yang alami tetapi
sangat lucu, Pak Tarno,
panggilan sehari-hari
Sutarno, berhasil merebut
perhatian penonton.
Simsalabim pok-pok-pok
dibuka jadi apa ya? Wah
kosong, ulangi ah...
Simsalabim dibuka jadi
apa? wah masih kosong
juga, pakai simsalabim
kok nggak bisa ya..?
ucapnya.
Pesulap tradisional ini,
lalu mengeluarkan
mantra-mantra khusus
berbahasa jawa kuno dan
dilanjutkan dengan
simsalabim dibuka jadi
apa ya? Penonton pun
tercengang karena tiba-
tiba muncul burung. Pak
Tarno juga pamer makan
kertas dan langsung
keluar jadi tali yang
panjang dan setelah habis
kertasnya keluar lagi
rantai silet yang juga
panjang sekali, kemudian
keluar lagi kawat yang
juga panjang.
Bahkan Pak Tarno bisa
melepas leher dari
badannya dan
menggoreng telur di atas
kepalanya, dengan
kompor berbahan bakar
kayu. Sebelumnya tabung
kompor ditunjukkan
kepada penonton bahwa
tabung berlubang dikedua
sisinya itu kosong, lalu dia
letakkan di atas kepalanya
kemudian diberi kayu dan
dibakar. Dia menggoreng
telur hingga matang.
Tepuk tangan penonton
pun semakin semarak.
Apa yang menarik dari
seorang Pak Tarno ?
Yang menarik dari Pak
Tarno adalah karena
keluguan dan
kesahajaannya, beliau
tidak memakai make up,
gaya bicaranya juga tidak
dibuat-buat, khas Tegal,
penataan peralatannya
juga kurang rapi, tetapi
terlihat sekali bahwa
beliau mengerjakan hal
tersebut dengan hati,
terlihat sekali bahwa
celetukan-celetukan lucu
pak Tarno dikeluarkan
dari hati, tidak ada beban
yang dibawa pak Tarno
selain beliau harus bisa
menghibur penonton .
pelajaran yang kita dapat
dari pak Tarno ini ?
Pelajaran yang kita dapat
dari Pak Tarno ini adalah,
apapun kegiatan kita,
apapun pekerjaan kita,
atau apapun yang akan
kita lakukan, hasilnya
tidak akan sempurna jika
kita tidak mempunyai hati
untuk melakukannya,
kalau hati kita sudah
tercurah untuk apa yang
akan kita lakukan, secara
otomatis kita akan
menyenangi kegiatan kita,
kalau kita senang dengan
kegiatan kita,

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan sopan

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls